Entri Populer

Sabtu, 02 Juni 2012

Kritik Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A Navis Oleh Fhatoni

Kritik Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A Navis
Oleh Fhatoni


Karya sastra adalah sajian bagi semua orang, di mana di dalam sebuah karya sastra terdapat berbagai nilai kehidupan dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang, contohnya adalah nilai religius. Menyampaikan pesan religius lewat karya sastra bukanlah pekerjaan yang mudah, karena jika tidak berkenan dengan pikiran atau kepercayaan orang-orang yang membaca, maka karya sastra tersebut dianggap sebagai karya yang menyesatkan. Oleh karena itu dalam memasukan unsure-unsur atau nilai-nilai religius, perlu didukung oleh berbagai sumber yang terpercaya, selain itu perlu juga memikirkan selera pembaca.
Seperti dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A Navis. A.A Navis menyajikan cerpen yang bermuatan religius dengan sangat baik, beliau mengemas dengan amat hati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman dan dianggap sebagai karya sesat. Cerpen Robohnya Surau Kami, sebenarnya yang terjadi pada cerpen tersebut bukanlah tentang surau yang roboh atau runtuh – tetapi ideologilah keagamaan yang runduh.
Cerpen Robohnya Surau Kami menceritakan tentang seorang yang biasa dipanggil Kakek. Kakek adalah seorang yang tidak mempunyai pekerjaan, yang dilakukan setiap harinya adalah menjaga surau dan beribadah di surau tersebut. Kakek pandai mengasah pisau dan gunting, dan banyak juga yang meminta tolong kepadanya untuk diasahkan gunting atau pisaunya. Namun, ia tidak pernah meminta imbalan apapun, dan orang yang meminta tolong pun memberi imbalan seperti rokok, dan makanan. Kakek tidak mempunyai penghasilan dari mana pun, ia hanya mendapatkan dari sedekah dan uang-uang hari raya.
Sekarang surau itu sudah tidak terawat lagi, orang-orang yang mencabuti papan pada surau untuk keperluan pribadi, anak-anak kecil bermain di dalam surau, dan banyak pula yang mengambil bahan-bahan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan. Sekali lihat pun orang-orang yang lewat di sekitar surau pasti mengetahui bahwa tidak lama lagi surau tersebut akan roboh. Itu semua dikarenakan tidak ada lagi yang mengurus surau, karena Kakek telah meninggal dunia.
Sebelum meninggal dunia, Kakek didatangi oleh Ajo Sidi, seorang pembual yang kerjanya hanya menyebarkan cerita-cerita yang tidak dapat dipercaya. Suatu hari Ajo Sidi mendatangi Kakek dan menceritakan tentang keadaan di neraka. Dia bercerita bahwa di saat penghitungan amal, terdapat seorang haji, yang bernama Haji Saleh. Tuhan bertanya pada Haji Saleh tentang kehidupannya dan Haji Saleh pun menjelaskan kehidupannya yang selalu taat beribadah dan selalu bertaqwa kepada Tuhan. Namun Haji Saleh dimasukan ke dalam neraka oleh malaikat atas perintah Tuhan. Haji Saleh yang tidak terima atas hukuman yang dijatuhi kepadanya memprotes kepada Tuhan. Akhirnya Tuhan menceritakan kenapa Haji Saleh dimasukan ke dalam neraka. Haji Saleh dimasukan ke dalam neraka karena semasa hidupnya, ia hanya memikirkan keadaan dirinya sendiri, tidak peduli terhdap keadaan di sekitarnya. Tuhan menganjurkan untuk beribadah dan beramal kepada yang kurang mampu, tetapi Haji Saleh hanya beramal kepada orang lain, namun keluarganya sendiri dilupakan. Kesalahan lainnya adalah Haji Saleh hanya beribadah dan malas bekerja sehingga tidak mempunyai apa-apa untuk diamalkan lagi, padahal sesungguhnya ia mampu bekerja dan beramal. Setelah mendengar kata-kata Tuhan, Haji Saleh dan pengikutnya yang ikut protes terdiam dan kembali dimasukan ke dalam neraka.
Mendengar cerita itu, Kakek secara tidak langsung merasa tersindir dan marah kepada Ajo Sidi. Kemudian sepeninggal Ajo Sidi, Kakek menjadi pemurung, berbeda dari tingkah lakunya yang biasa. Bahkan Kakek sempat mengasah pisau untuk menggorok leher si Ajo Sidi karena tersinggung dengan ceritanya.
Keesokan harinya, didapati kabar bahwa Kakek meninggal di surau. Keadaannya sangat mengerikan, ia menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Ajo Sidi menjadi orang yang pertama terjadi, mengingat karena ulah dialah Kakek bunuh diri, akibat dari cerita yang ia kabarkan. Namun setelah didatangi, Ajo Sidi tidak ada di rumah dan ketika ditanya istrinya menjawab bahwa suaminya sedang pergi bekerja.
Setelah membaca cerpen ini, saya seperti membaca kembali dongeng-dongeng anak muslim yang menceritakan sisi lain dari kehidupan beragama. Seperti yang diketahui,tokoh Kakek atau pun Haji Saleh dalam cerita Ajo Sidi mempunyai suatu kesamaan, yaitu orang yang hanya giat beribadah. Namun mereka berdua lupa akan perintah Tuhan yang sederhana, yaitu memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa dibalik kesempurnaan yang tampak,di dalamnya pasti ada kecacatan besar yang tidak tampak.
Di dalam cerpen ini juga tersirat berbagai symbol, salah satunya adalah robohnya surau. Surau dapat diumpamakan sebagai suatu ideologi keagamaan Kakek yang runtuh seketika karena cerita Ajo Sidi. Berdasarkan hal ini,dapat disimpulkan makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah keruntuhan ideology beragama akibat sebuah kesalahan kecil yang sangat fatal.
Melihat isi cerpen Robohnya Surau Kami, saya berpendapat bahwa unsur keagamaan yang ditampilkan sangat kental, oleh karena itu sangat memungkinkan bahwa pengarang, yaitu A.A Navis sangat cermat menuliskannya. Secara logika, tidak mungkin cerpen religius seperti ini dibuat oleh orang yang tanpa pengetahuan agama atau orang yang tidak taat beragama.
Nama panjang A.A Navis adalah Haji Ali Akbar Navis. Dilihat dari latar belakang nama pengarangnya dapat dipastikan bahwa ia adalah orang yang mengerti agama dengan baik. Sebab itulah yang membuatnya membuat cerpen religius. Mungkin ini adalah salah satu alasan A.A Navis membuat cerpen tersebut.
Melihat latar sejarah pembuatan cerpen Robohnya Surau Kami, cerpen ini dibuat sekitar tahun 1965. Di tahun ini pula terjadi peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia. A.A Navis selain seorang haji, dia juga seorang budayawan yang bergerak di bidang kemanusiaan. Mungkin dengan kedua alasan inilah cerpen Robohnya Surau Kami dibuat. A.A Navi menggabungkan antara unsure-unsur kemanusiaan dan keagamaan. Memang keduanya saling berkaitan erat, bagaimana sikap untuk memanusiakan manusia dan  saling tolong menolong antar umat beragama terdapat dalam ajaran agama manapun. Dan semua itu dikemas secara sinkronisasi oleh A.A Navis ke dalam bentuk cerpen. Sehingga batasan-batasan antar umat beragama secara tidak langsung hilang dan pesan ini bisa dikatakan mengandung amanat ke semua umat beragama, bukan hanya umat Islam.
Mungkin batasan agama yang terdapat dalam cerpen terdapat pada pemilihan kata ‘surau’. Kata ‘surau’ identik dengan tempat beribadah umat muslim. Sehingga bagi pembaca awam yang memeluk agama selain Islam merasa cerpen ini diperuntukan hanya untuk umat muslim saja. Seandainya kata ‘surau’ diganti dengan ‘tempat ibadah’ saja mungkin akan lebih menaikan nilai jual cerpen ini. Lalu kekurangan lainnya terdapat pada tokoh ‘aku’. Tokoh Aku pada cerpen ini seharusnya tidak perlu ditampilkan, karena tidak berpengaruh pada jalannya cerita atau bisa dikatakan “tanpa tokoh Aku, kejadian tetap terlaksana”. Jika tokoh Aku tidak ada, mungkin ini akan memperkecil kekurangan pada cerpen ini dan mencegah “pemborosan tokoh”. Gaya flashback yang dipakai juga terasa kurang tepat karena pembaca sudah mengetahui riwayat tokoh Kakek pada awal cerpen, gaya flashback ini justru mengurangi susspence pada cerita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar